Ketua Umum DPN GAKI Apresiasi Penangkapan Bupati Banjarnegara Jabatan Kepala Daerah Rawan Penyimpangan

detikcyber.com, Solo – Penetapan tersangka terhadap Bupati Banjarnegara yang kontroversial, Budhi Sarwono, dalam kasus dugaan korupsi terkait pengadaan pada Dinas PUPR Pemkab Banjarnegara tahun 2017-2018, mengagetkan banyak pihak.

Pasalnya, Budhi Sarwono sering menjadi sorotan publik karena aksinya mengunggah slip gaji ke media sosial (medsos) hingga memperbaiki jalan menggunakan dana pribadi.

Kendati demikian, Ketua Umum DPN GAKI Gerakan Anti Korupsi Independen Didik Rudiyanto SH MH mengapresiasi acungi jempol penanganan korupsi yang dilakukan lembaga antirasuah itu.

Menurut Ketua Umum DPN GAKI, Didik Rudiyanto SH MH, penetapan tersangka Budhi Sarwono oleh KPK menjadi peringatan bagi kepala daerah lainnya, agar tidak menyalahgunakan jabatan.

“Penetapan Bupati Banjarnegara sebagai tersangka oleh KPK ini menjadi peringatan dan pembelajaran bagi kepala daerah lainnya agar tidak melakukan korupsi,” katanya, Sabtu (4/9/2021).

Penetapan tersangka Bupati Banjarnegara ini pasca OTT KPK terhadap Bupati Probolinggo yang tertangkap bersama suaminya. Hal tersebut menandakan bahwa jabatan kepala daerah memang rawan penyimpangan.

Selain itu, lanjut Didik, dari beberapa OTT yang dilakukan oleh KPK, telah memperjelas bahwa upaya pelemahan KPK dengan dilakukannya revisi UU KPK, tidaklah terbukti.

“Faktanya KPK justru semakin memperlihatkan taring tajamnya dalam memberantas korupsi,” tegasnya.

Hanya saja, kata Didik, penetapan tersangka Budhi Sarwono sebagai tersangka memang berdasarkan fakta dan bukti. Meski begitu, Budhi Sarwono secara tegas membantah, bahkan minta ditunjukkan bukti dan pemberi suap yang dituduhkan padanya.

“Ini yang ditunggu tunggu oleh publik agar publik tidak menerka-nerka alibi dari tersangka Budhi Sarwono,” tandasnya.

Seperti dikabarkan, KPK menetapkan dua orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan pada Dinas PUPR Pemkab Banjarnegara tahun 2017-2018.

Dua orang tersebut Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono (BS) dan Kedy Afandi (KA), selaku pihak swasta.

Dalam perkara tersebut, Budhi Sarwono diduga menerima uang sebesar Rp 2,1 miliar.

Wartawan : Yuyun
Editor : Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *