Sidang Kasus Narkoba, Kuasa Hukum Terdakwa Klaim “ Adanya Rekayasa “
Sidang Kasus Narkoba, Kuasa Hukum Terdakwa Klaim “ Adanya Rekayasa “

detikcyber.com, BLITAR – Sidang Narkoba yang digelar di PN Blitar, Rabu, (21/11/18) atas terdakwa David Hermawan alias Kasisi pasca menghadirkan saksi verbalisan (saksi penyidik), dalam agenda sidang kali ini Kuasa Hukum terdakwa menghadirkan dua orang saksi yang meringankan terdakwa (saksi A De Charge) yakni SP dan istrinya.

Para saksi saat diambil sunpahnya di PN Blitar dalam sidang narkoba. (Foto by Anton)

Saksi SP tersebut dalam persidangan menyebut kronologi penangkapan terhadap terdakwa David Hermawan alias Kasisi. Pada saat di TKP yang berjarak sekira 4 meter dari rumah David yang lagi direnovasi itu, selain saksi ada sekelompok orang yang ngobrol salah satunya perempuan berinisial An. Menurut keterangan saksi, dengan bahasa tubuh yang dilakukan oleh polisi kepada An seperti mengisyaratkan sesuatu dan An juga berkata kepada terdakwa David dengan nada pelan, sori yaa… Vid. Bersamaan itu pula terlebih dahulu An diberi isyarat dengan bahasa tubuh (disenggol) dengan tangan polisi sambil menggelengkan kepala pertanda agar segera keluar dari tempat”, jelas saksi SP.

Kuasa Hukum Terdakwa, Suhadi SH MHum. (Foto by Anton)

Selain itu saksi juga mengatakan saat penangkapan dilakukan oleh 4 polisi dengan bersuara menyuruh untuk mengambil. “ suara itu terdengar jelas dari bawah pos kamling tempat kejadian perkara.” terang saksi.

Sebelumnya terdakwa turun dari pos kamling sambil menggenggam sesuatu dan langsung pergi menggunakan motor milik An. Tak berapa lama kemudian terdakwa datang lagi sudah membawa bungkusan plastik warna putih sambil naik tangga ke atas di tempat mereka semula berkumpul. Saksi pun mengatakan ada aktifitas gunting-gunting sedotan.

Bukan itu saja, SP juga menjelaskan, bahwa David dipaksa untuk membeli barang tersebut (sabu-sabu) oleh perempuan itu, meski David sempat menolaknya. Namun tetap dipaksa oleh perempuan tersebut. ,” tambahnya.

Terdakwa David Hermawan alias Kasisi saat akan mengikuti persidangan. (Foto by Anton)

Hal senada juga disampaikan saksi yang tak lain merupakan istri dari SP. Motor saksi saat itu dibawa oleh polisi sebagai barang bukti selanjutnya polisi menyarankan agar motor diambil setelah seminggu kemudian. Hingga akhirnya polisi mengembalikan motor saksi.

Sementara Suhadi, SH, M.Hum, selaku kuasa hukum terdakwa David Hermawan mengatakan, dari kesaksian saksi yang dihadirkannya, menunjukan semakin jelas bahwa adanya rekayasa terhadap penangkapan David. “Saksi sudah menjelaskan dalam persidangan yang terbuka untuk umum. Bahwa An datang dan menyuruh David. Awalnya David menolak, kemudian karena dipaksa akhirnya bersedia. Sesudah itu, ternyata yang dibeli belakangan diketahui adalah sabu-sabu dan diserahkan kepada Ana,” kata Suhadi.

Lebih lanjut Suhadi menambahkan, sementara saksi-saksi dari kepolisian menerangkan bukan An yang menerima sabu-sabu tersebut, melainkan David lah yang menaruh barang. “Jadi ini terlihat banyak sekali rekayasanya.

Kemudian ketika An turun tangga dan meninggalkan tempat. Ternyata terlebih dahulu diberi kode dengan disenggol tanggannya oleh penyidik, kemudian sambil kepalanya memberi isyarat agar segera turun. Sebelum turun Ana bilang kepada David sory yaa Vid. Jadi Tampak sekali rekayasanya,” tandas Suhadi.

Dari keterangan saksi dan terdakwa ini, diperoleh alat bukti berupa petunjuk yaitu bahwa adanya rekayasa yang kental. “Dalam dakwaan disampaikan, bahwa David membeli untuk dipakai sendiri, tapi ternyata kan tidak. Berarti dakwaannya tidak benar. Jadi di sini dakwaannya sudah meleset/tidak pas,”tandasnya.

Menurut Suhadi, sebenarnya kalau mau menyelesaikan masalah tindak pidana khususnya narkotika harus komprehensip. “Jadi harus komprehensip, yang menyuruh itu siapa. Justru dalam kontek ini David kena pasal 55 nya, kalau memang murni si An yang menyuruh. Tapi kenapa An tidak ikut diproses. Bahkan Suhadi menduga, ada komunikasi intens atara An dengan polisi. Jadi tidak terbukti dakwaan itu, karena dipelintir,” tegasnya

Dikatakan pula oleh Suhadi, dari fakta hukum yang terungkap dalam persidangan merupakan alat bukti petunjuk. Karena alat bukti petunjuk dalam hukum pidana itu ada 5 salah satunya adalah petunjuk yang diperoleh dari keterangan saksi, keterangan terdakwa, keterangan saksi dengan surat dan keterangan terdakwa dengan surat. Sehingga mendapatkan alat bukti ada yang menyuruh terdakwa David, itu siapa?

Nah disini tampak kental sekali permainan polisi yang menangkap. Jadi sulit mengatakan polisi tidak berperan dalam perkara ini. Karena seharusnya hal tersebut tidak boleh dalam perkara pidana murni, melainkan perkara pidana ini yang diciptakan atau dibuat oleh polisi khususnya Satreskoba Polres Kota Blitar.,” tandas Suhadi.

Dari uraian fakta hukum yang terungkap dalam persidangan kali ini, terlihat sekali adanya unsur rekayasa yang sangat kental. Jadi kita sebagai aparat penegak hukum, mulailah dengan kejujuran tidak perlu bermanufer yang negatif. Hukum benar-benar ditegakkan demi keadilan bukan untuk kepentingan karir, menghabiskan anggaran dan bukan untuk pesan sponsor tertentu. Tetapi benar benar untuk menegakkan hukum demi keadilan,” tegasnya.

Karena menurut Suhadi, dalam perkara ini kesaksian semakin jelas tampak rekayasa, antara keterangan saksi dan keterangan terdakwa diperoleh alat bukti berupa petunjuk. Bahwa memang adanya rekayasa dalam dakwaan adanya upaya untuk menghilangkan bukti-bukti dengan tidak menghadirkan para saksi saksi lainnya, yang mengakibatkan perkara jadi bias.

Ironisnya lagi yang terjadi adalah peradilan sesat yang akhirnya tak lain adalah masyarakat yang dirugikan. Semestinya sebagai aparat penegak hukum bukan merobohkan hukum melainkan menegakkan hukum,” kata Suhadi agak meninggi.

Saat disinggung terkait perkara ini diduga diciptakan alias tidak murni, kuasa hukum terdakwa Suhadi SH MHum memberikan pengertian tidak boleh. Terkecuali terkait Under Cover Buy (teknik khusus dalam penyelidikan kejahatan narkoba / pembelian terselubung ) yang dilakukan oleh polisi tertentu untuk membeli narkotika kepada penjual maupun Bandar yang mendapat surat tugas.

Meski demikian Suhadi berharap, agar hakim menerapkan ilimu hukum pidananya seoptimal mungkin dan berani bersikap yang benar adalah benar yang salah adalah salah,” pungkasnya. (Anton)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Exiting Little Pharma | VHS MIDNIGHT STYLE | Cyber Dream Records where can u buy steroids can you really buy anabolic steroids online, buy dianabol blue hearts uk - heroes past and present HSA warns about 2 'health' products that contain steroids, dangerous steroids usa online 'pharma bro' martin shkreli denied release from prison to work on coronavirus cure