Ketua KRPK Bongkar Percakapan Di Whatsapp Awal Surat KPK Palsu

detikcyber.com, BLITAR – Komite Rakyat Pemberantas Korupsi (KRPK) yang dikomandani oleh M Triyanto menggelar aksi demo damai pada kamis (25/10) di perempatan Lovi Kota Blitar. Dalam aksinya mendesak polisi segera mengusut siapa aktor inteletual dibalik pembuat surat palsu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Disela-sela aksi demo. M Triyanto kepada awak media membeberkan dan membongkar awal surat palsu KPK yang menjadikan dirinya sebagai terlapor. Kasus surat panggilan palsu KPK dan kasus teror bom di Kabupaten Blitar yang saat ini tengah ditangani serius oleh Polres Blitar menurutnya disinyalir diotaki oleh orang yang sama.

Dijelaskan secara detail oleh Mohamad Triyanto, intinya pada 5 oktober 2018 dirinya mengirimkan surat dan datang sendiri ke BPK-RI dengan tembusan KPK, Kejkasaan Agung dan Mabes Polri. Mendesak agar BPK mengevaluasi dan mengaudit APBD th 2016 kabupaten Blitar, baik APBD induk maupun Perubahan /PAK .

Selanjutnya pada tanggal 10 oktober 2018 pagi, dapat chat dari Whatsapp yang isinya ditanya apakah mendengar bupati Blitar dan salah satu staf Dinas PUPR dipanggil KPK? Dijawab tidak tahu, maklum saya hanya rakyat jelata.Kemudian besuk paginya, dirinya mendapat surat dari Yosi diketahui merupakan anak laki-laki Ketua kadin Kabupaten Blitar .

Triyanto mengaku pertama kali mendapatkan informasi terkait surat pemanggilan KPK itu dari Yosi melalui pesan Whatsapp. Dalam pesan tersebut Yosi mengirim foto sampul surat panggilan dari KPK yang dilayangkan kepada salah satu staf Dinas Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat (PUPR) bernama Tiyon.Ketika itu saya tidak tahu apakah surat KPK tersebut palsu atau tidak.

Kemudian Sore harinya staf PUPR Tiyon, datang menemui saya untuk mengadukan ketakutanya karena menerima surat panggilan dari KPK. Bukan itu saja, dia juga bilang selain dirinya bupati juga dipanggil KPK. Tiyon saat itu menganggap bahwa surat itu asli,” jelas Triyanto.

Kemudian Triyanto menanyakan kepada Tiyon, bagaimana surat itu diterima. Tiyon menerangkan bahwa surat KPK itu tiba-tiba berada di meja kerjanya.  Namun pada waktu itu saya sudah merasa ada hal yang janggal terkait mekanisme pengiriman surat. sehingga saya pikir untuk membagikan surat itu ke akun Facebook untuk mencari tentang kebenaran akan surat tersebut,” bebernya.

Namun Triyanto juga menemukan kejanggalan lainnya. Ternyata, Yosi sudah mengetahui adanya surat panggilan oleh KPK, sebelum Tiyon dan Bupati Blitar belum mengetahui  menerima surat tersebut. Saat mencoba mengkonfirmasi kepada Yosi darimana foto sampul surat yang dikirimkanya, Yosi justru menjawab jika pihaknya juga merupakan korban. Karena ibunya juga mendapatkan surat yang sama.

Selanjutnya masih menurut Triyanto, jika ibunya mendapatkan surat yang sama kenapa foto yang dikirim ke saya bukan surat yang diterima ibunya. Tapi justru surat yang ditujukan kepada Tiyon staf PUPR. Saya berharap konspirasi busuk ini segera dibongkar,” tandasnya.

Mengejutkannya lagi, pasca pihak Pemkab resmi melaporkan Mohamad Triyanto atas dugaan pelanggaran UU ITE, dan mulai memanggil sejumlah saksi, mendadak ada bom palsu di kantor Kadin Kabupaten Blitar yang tak lain juga digunakan sebagai kantor kontraktor milik ibu Yosi. Diduga ada indikasi pengalihan isu namun Triyanto tidak berani berspekulasi karena yang menyimpulkan nanti adalah penyidik. Yang pasti kepolisian tau hari Jumat (19/10/2018) itu mereka memanggil siapa, dan sorenya ada bom palsu itu,” katanya.

Sementara menurut Kasubag Humas Polres Blitar Iptu Mohamad Burhanudin menutarakan, hingga saat ini Polres Blitar masih melakukan proses penyelidikan dan penyiidikan serta proses pemeriksaan sejumlah saksi. “ Masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah pembuat surat panggilan palsu KPK ada keterkaitannya dengan bom palsu di kantor Kadin Kabupaten Blitar,” tuturnya. (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *