MENAKAR KEMEWAHAN NAPI BERDUIT

detikcyber.com, Jika terbukti, Moral bejat…..Mental bobrok, kata yang pas bagi pelaku suap menyuap yang terjadi di Lapas Sukamiskin Bandung Jawa Barat. Simbiose saling menguntungkan ini tidak pantas ditiru oleh siapapun yang menggunakan jabatannya. Jual beli fasilitas mewah di dalam Lapas merupakan fenomena gunung es yang segera diambil langkah konkrit agar kejadian tersebut tak pernah terulang kembali.

Jangankan napi borjuis, napi pidana umum pun yang notabene tak mampu namun jika sudah di dalam Lapas maka dia juga mengeluarkan kocek demi fasilitas. Seperti, keamanan hingga mendapatkan sel yang penghuninya sedikit. Sebaliknya jika tidak bayar otomatis napi tersebut akan dicampurkan dengan penghuni sel yang over load kapasitasnya. Fenomena ini sudah menjadi “ tradisi “ di Lapas.

Kendati Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berjanji mencopot dan memidanakan petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) yang terbukti menerima suap untuk memuluskan keinginan narapidana berduit mendapatkan berbagai ‘kemewahan’. Namun hal itu tidak membuat kapok mereka.

Masih segar kasus yang menimpa Kalapas Sukamiskin Bandung Wahid Husein (WH), Hendry Saputra (HND) yang merupakan staf Wahid Husein, narapidana kasus korupsi Fahmi Darmawansyah (FD). Selain itu, Andri Rahmat (AR) yang merupakan narapidana kasus pidana umum/tahanan pendamping (tamping) dari Fahmi Darmawansyah. Kasus suap fasilitas istimewa dalam Lapas yang terbongkar oleh lembaga anti rasuah KPK.

Kasus jual beli fasilitas mewah dalam sel dengan memberi dua unit mobil dan sejumlah uang ratusan juta rupiah sangat menampar lembaga terkait, pasalnya KPK bekerja keras memberantas korupsi, ending untuk pelaku biar jera masih belum menjamin. Karena ketika diputus pengadilan dan menjalani penjara di lapas ibarat hanya pindah rumah belaka.Segala fasilitas mewah bisa disediakan asal bisa bayar.

Temuan serupa pernah terjadi (seperti dilansir Tempo) dan sontak membuat berang Menteri Yasonna . “Saya tidak main-main lagi, kalau saudara menodai pekerjaan kita dan membuat semuanya dalam Kemenkumham menjadi malu dan sangat malu… tidak cukup saya pecat… saya pidanakan!” kata Yasonna sambil sesekali menggebrak meja pada rapat internal Kemenkumham, termasuk kepada Kepala Lapas Sukamiskin Dedi Handoko ketika itu.

Flash Back, sejumlah nama terpidana korupsi seperti mantan direktur PT Masaro Radiokom, Anggoro Widjojo, yang tersandung kasus korupsi di Kementerian Kehutanan, Romi Herton mantan Wali Kota Palembang, dan mantan Bupati Bogor, Rachmat Yasin. Ketiganya diduga memanfaatkan izin berobat ke luar lapas untuk mengunjungi apartemen dan rumah kontrakan.

Pada 2010, wartawan yang meliput pertandingan tenis antara Hantuchova dan Yanina Wickmayer dalam turnamen Commonwealth Bank Tournament of Champions di Nusa Dua, Bali dibuat geger oleh seorang pria berambut belah tengah dan berkaca mata. Dialah Gayus Tambunan, terdakwa kasus mafia hukum dan mafia pajak, yang saat itu tengah ditahan di Rumah Tahanan Brimob Kepala Dua, Depok.

Meski sempat membantah, Gayus akhirnya mengaku dirinya memang pergi ke Bali untuk menonton pertandingan tenis. Tak sekedar ke luar kota; selama menjadi tahanan di Rutan, Gayus bahkan sempat ke luar negeri. Dengan paspor palsu atas nama Sony Laksono, Gayus mengaku sempat berpelesir ke Makau, Kuala Lumpur, dan Singapura. Demi melancarkan rencananya itu, Gayus menghabiskan puluhan juta untuk menyuap sejumlah petugas Rutan Mako Brimob, termasuk kepala Rutan, Kompol Iwan Suswanto.

Napi satu ini kembali menjadi bahan perbincangan ketika pada September 2015, beredar foto seorang pria yang mirip dengannya bersama dua orang perempuan di sebuah restoran di Jakarta. Saat itu, dia tengah menjalani hukuman penjara 30 tahun di LP Sukamiskin.

Ditjenpas membenarkan bahwa Gayus Tambunan makan di luar tahanan. Dia diizinkan pihak lapas keluar tahanan untuk menghadiri sidang gugatan cerai oleh istrinya di Pengadilan Agama Jakarta Utara. Akibat sering keluyuran ke luar penjara, Gayus dipindahkan ke LP kelas III dengan penjagaan ketat di Gunung Sindur, Bogor.

Selainnya mantan Wali Kota Bekasi, Mochtar Mohamad, yang menjadi terpidana kasus perkara suap, juga pernah kedapatan makan malam di restoran masakan Sunda di Jakarta Selatan pada Oktober 2014. Napi LP Sukamiskin itu berdalih sedang mengikuti program asimilasi.

Mantan Wali Kota Palembang, Romi Herton, dan istrinya, Masyito, yang sedang mendekam di LP Sukamiskin, juga dilaporkan sempat pergi ke Palembang tanpa pengawalan. Mereka beralasan menjenguk anak mereka yang sakit. Pasangan itu adalah terpidana kasus suap hakim Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar.

Bukan itu saja, di penjara, Artalyta Suryani menikmati kamar mandi pribadi, televisi layar datar, dan ruang karaoke.Pengusaha yang dihukum lima tahun penjara karena menyuap jaksa itu kepergok sedang menerima perawatan kecantikan dalam selnya yang mewah di Rutan Kelas II Pondok Bambu, Jakarta Timur. ‘Istana dalam penjara’ milik Arlyta dan beberapa narapidana lainnya terungkap ketika tim yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan inspeksi mendadak ke penjara perempuan itu pada 2010.

Sampai sekarang, praktik ini dilaporkan masih terus berlanjut. Menurut kabar santer, narapidana di LP Sukamiskin bisa merenovasi sel mereka dan menambah perabot seperti televisi, toilet duduk, dan kipas angin. Napi juga dapat memesan makanan dari luar lapas, dan bahkan menggelar pesta sampai mengundang artis.

Gembong narkoba yang telah dieksekusi mati, Freddy Budiman, dilaporkan sering memanggil kekasihnya ke dalam bui.Mantan kekasih Freddy, Vanny Rossyane, menunjukkan serangkaian foto bukti keberadaan ‘bilik asmara’ di LP Cipinang. Tempat itu sering dimanfaatkan untuk melakukan hubungan seks dan menikmati narkoba. Dalam wawancara di sejumlah media, Vanny menyebut ruangan itu kantor kepala lembaga pemasyarakatan.

Untuk diketahui, narapidana memang memiliki hak untuk menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu lainnya serta mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga. Namun tidak ada aturan yang membolehkan napi berhubungan seks di dalam penjara.

Pengalaman mantan napi yang pernah menghuni Lapas Sukamiskin yang enggan disebut namanya angkat bicara, para napi yang bepergian ke luar penjara biasanya memanfaatkan tiga jenis izin yaitu berobat, menjenguk anggota keluarga yang sakit, dan kerja sosial.

Hal senada disampaikan oleh Wartawan dan penulis Arswendo Atmowiloto yang penah dilansir Tempo. Arswendo yang pernah mendekam di LP Cipinang selama lima tahun pada awal 1990-an, mengatakan praktik semacam itu memang lumrah dilakukan narapidana yang berduit. Bahkan, menurutnya, itu bagian dari tradisi.”Yang mereka gunakan itu adalah kesempatan-kesempatan yang secara peraturan ada tapi memang hanya orang-orang tertentu, yang berduit, yang bisa memanfaatkan. Contoh, misalnya, berupa keluar penjara. Itu berlaku untuk semuanya, itu ada peraturannya. Dari situlah kemudian mereka mempergunakan kesempatan itu keluar, untuk pergi pagi-pulang sore, dan lain sebagainya.

“Dan itu dimungkinkan karena secara tradisi, kalau di Cipinang itu, sejak tahun 1912 sudah berlangsung. Tinggal meneruskan saja tradisi ini,” tutur Arswendo kepada BBC Indonesia ketika itu.

Beberapa narapidana di LP Sukamiskin juga diduga memiliki saung-saung tempat menerima keluarga narapidana yang berkunjung atau mengadakan kegiatan. Saung tersebut dilengkapi sejumlah fasilitas yang terbilang mewah untuk lembaga pemasyarakatan, antara lain sofa empuk, kulkas, pemanas air minum, dan sound system.

Berita tentang gaya hidup nonminimalis narapidana korupsi memang bukan hal baru. Berikut ini beberapa ‘kemewahan’ dalam bui yang dilaporkan bisa dinikmati para napi berduit:

Meskipun begitu, Arswendo yang merupakan mantan tahanan di LP Cipinang mengatakan memang ada “ruangan khusus” yang dapat disewa narapidana untuk dipakai berhubungan seks.

“Begitu kebutuhan seksnya ada, dan dia punya duit ya jadi… Bukan rahasia kalau tempatnya tertutup begitu, orang di situ 24 jam, ada istrinya… itu cepat, semua orang juga tahu.”

Setelah praktik plesiran ke luar lapas ini terungkap, Menkumham Yasonna Laoly mengatakan akan memindahkan sejumlah penghuni LP Sukamiskin ke LP Gunung Sindur, Bogor, secara bertahap.

Menkumham juga memerintahkan agar saung-saung ‘mewah’ di LP Sukamiskin dibongkar dan diganti dengan fasilitas baru yang dibangun pemerintah.

Ketika itu, komitmen itu dihargai pakar kriminologi dan mantan anggota Kompolnas, Adrianus Meliala. Namun menurut dia, masalah pungli tidak cukup dipecahkan dengan penghukuman. Adrianus menilai semuanya tergantung pada perilaku sipir, mengingat LP adalah lembaga inkapasitasi yang bertugas memutus kapasitas publik selama dia menjalani hukuman pidana.”Nah kalau sipirnya sudah main mata, sudah mau lihat-lihat, dan seterusnya, maka itu akan dibaca oleh si narapidana sebagai kesempatan untuk berbuat lebih,” katanya.

Maka dari itu, Adrianus berpendapat pemerintah juga perlu melakukan rotasi petugas lapas untuk mencegah mereka “berkarat”.”Kalau bisa orang-orangnya, mulai dari kalapas hingga kesatuan pengamanan kalau bisa diputar juga setiap tiga-empat tahun sehingga tak berurat-berakar dia. Selama ini yang diputar begitu paling-paling hanya jajaran kalapas, wakalapasnya saja. ,” tutur Andrianus. (BM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *